intentional fallacy

katanya:

Dengar wanita itu berpuisi
Ia puisi syahdu, ia gelap
Melodi suaranya sayu
Tapi, ia jelas maknanya
Malah membunuh.

Dengar wanita itu berpuisi
Itu jiwanya yang dia luahkan
Walau seninya itu
Ditafsir akan ertinya lain-lain
Oleh si pencandu puisi.

Dengar, coba tutup subjektifmu
Biar erti dari si pelukis puisi
Yang membunuh jiwamu;
Bukan tafsiran dari jiwamu
Tapi, makna puisi dari si dia itu.

Coba bebaskan jiwamu darimu
Biar ia ada di ruang masa
Dalam kosmologi jiwa wanita itu
Dan, coba sirnakan jiwamu
Dalam emosi si pelukis karya itu.

Tapi, sungguh kecewa hasilnya
Kerna tetap jiwamu ada
Dalam menilai dan menikmati
Puisi yang dilukis oleh si dia itu
Malah, pengkarya itu langsung tak wujud
Dalam tafsiranmu terhadap puisinya itu.

Ternyata, dia tetap bersembunyi
Dalam puisinya tanpa sesiapa tahu
Walau, ia coba zahirkan emosinya
Malang, ia tetap tanpa suara
Buat selama-lamanya.

Ulasan

Catatan Popular