~divina commedia~

katanya:

ia kelakar, ia komedi
duka yang ada di hatiku ini
aku pendam tanpa luah
kerna tidakku tahu nak luah ke mana
dan, aku tidak percaya
bahwa luah segala duka
bisa selamatkan aku.

ia kelakar, ia komedi
aku coba pendam kemurunganku
dari segala spesies manusia
kerna tiada sesiapa faham akan ia
malah sepertinya, ia tidak bisa
dihilangkan dari hidupku.

ia lagi kelakar, sangat komedi
ku ingatkan cinta bisa selamatkan aku
bisa menarik tanganku keluar dari lembah ini
tapi cintaku sekadar cinta tak berbalas
dan hanya melemaskan lagi jiwaku
dan menambah lagi kedalaman lembah ini.

ia tersangat kelakar
kerna tidak ku sangka, duka cinta
bisa mengisi jiwaku yang kekosongan
hasil psikologi gelapku
ia magik, kerna kekosongan jiwa
diisi dengan duka cinta
walau duka cinta itu benar-benar
menyeksa jiwaku, dalam diamku.

ia lagi kelakar, ia sebuah komedi
aku rela jiwaku dimeranakan cinta
berbanding ia lemas hasil kekosongan
maka, aku pilih masih mencintainya
walau ia cinta delusional-unrequited
aku isi jiwaku yang kekosongan
guna darah hasil duka cinta.

ia lagi kelakar
apabila aku lawan semua itu
bersendirian, tanpa sesiapa tahu
tanpa penceritaan kepada sesiapa,
hanya berkurungku dalam dunia gelapku
menangisku dalam sangkar kecilku
teriak merana jiwaku dalam diamku
nangis jiwaku dalam senyumanku.

ia lagi kelakar, tersangat komedia
apabila sepanjang hariku, aku hanya terperap
dalam ruang kecilku, tanpa disibukkan zahir
akhirnya, aku mempunyai banyak masa
untuk dwell dalam duka cinta, kemurungan
dan, semakin lama aku dwell di lembah itu
semakin merana jiwaku, lemas sanubariku
semakin dicabar kewarasan logik akalku
dan, yang tersangat kelakarnya
tidakku mahu keluar dari ia
kerna takutku relapse yang akhirnya
bertambah susah ku nak keluar dari ia.

ia lagi kelakar, tersangat kelakar
apabila aku masih pilih hidup
walaupun jiwaku meronta-ronta
hasil ditikam oleh psikologi gelap
ditambah duka cinta tak berbalas
dan, kini kewarasan mindaku dicabar
takutku benar ia hilang sepenuhnya dariku
aku takut aku tak bisa kawal lagi
kemurunganku, duka cintaku, duka hidupku,
yang akhirnya adalah nyawaku tercabut.

ini rupanya rasanya,
cintaku adalah penuh kegagalan
psikologiku juga kegagalan
kerjayaku juga menemui kegagalan
spiritualku hanya kegagalan
zahirku juga adalah kegagalan
hidupku kini adalah kegagalan
dan, yang lebih kelakar,
sempurna kelakar, malah ia sebuah komedi
bahwa hatiku masih berharap dan percaya
aku bisa berubah, hidupku bisa berubah...
kah kah kah.

Ulasan

Catatan Popular